Tampilkan postingan dengan label EkoNoMi n' BisNis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label EkoNoMi n' BisNis. Tampilkan semua postingan

Menjadi Wirausahawan? Siapa Takut?


Bergerak dari kebutuhan mengubah cara berpikir sebagian besar masyarakat Indonesia yang tertumpu pada peran pokok pemerintah dalam menciptakan peluang kerja, dirasakan kita harus mengenal dan bekerja mentransformasi pemikiran tersebut secara perlahan. Setiap pelajar yang menyelesaikan pendidikan di Indonesia memiliki sebuah paradigma yang secara kebetulan mengakar dan bukan saja menjadi bumerang dan kelemahan pendidikan di Indonesia, para murid dari jenjang dasar hingga perguruan tinggi dibentuk dengan pemikiran setelah lulus hanya jadi employee atau secara harafiah adalah pegawai. Setiap orang menjadi nyaman dengan keadaan tersebut dan beranggapan menjadi kaya sebagai hal yang tabu.

Sebagai salah satu batu loncatan dalam hidup anda, dalam hal ini saya ingin memperkenalkan konsep bagaimana kita berwirausaha. Kematangan tidak dinilai dari berapa usia anda, sukses sejak muda adalah hal yang mungkin. Kunci untuk mendapat sebuah keberhasilan diperoleh dari kerja keras sedangkan kepandaian dan factor lain hanyalah pendukung. Semakin sering anda mengasah diri menjadi pengusaha , maka semakin besar peluang untuk menjadi pengusaha sukses. Wirausahawan adalah orang yang memiliki seni dan ketrampilan tertentu dalam menciptakan usaha atau bisnis yang baru dengan diperhadapkan dengan resiko dan ketidakpastian dalam memperoleh keuntungan dan mengembangkan bisnis dengan cara mengenali kesempatan dan memanfaatkan sumber daya yang diperlukan. Lewat sebuah pengalaman buruk, seseorang dapat melihat adanya peluang “Gideon hartono pada suatu malam yang disertai hujan lebat , mencari obat di apotek namun setelah mendapat apotek yang masih buka. Harga yang harus ditebus terlalu mahal berkisar 4-5x harga normal, dari kesulitan itulah timbul ide untuk mendirikan apotek K-24 (komplit 24 jam)dimana apotek tersebut akan menjual obat dengan harga normal sepanjang hari, saat ini K-24 berkembang pesat dengan gerai yang menjamur di kota-kota besar di Indonesia.”

Kita dapat berkontribusi secara nyata kepada lingkungan masyarakat kita, ketimbang menunggu uluran tangan pemerintah dalam bertindak. Kontribusi swasta yang diberikan oleh perusahaan besar maupun UKM (usaha kecil dan menengah) sangat signifikan dalam pembangunan ekonomi Negara. Langkah apa saja yang dapat kita lakukan yaitu, meningkatkan lapangan pekerjaan, meningkatkan kualitas hidup, meningkatkan pemerataan pendapatan, memanfaatkan dan memobilisasi sumber daya untuk meningkatkan produktivitas nasional, serta meningkatkan penerimaan pemerintah melalui pajak.

Menurut beberapa pakar, pembangunan kewirausahaan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka banyak lapangan kerja baru (Schumpeter,1971), melahirkan banyak kreativitas dan inovasi baru dalam melakukan usaha maupun teknologi (Porter,1990), meningkatkan kualitas kompetisi yang berujung pada nilai tambah bagi masyarakat (lumpkin dan Dess,1996), menurunkan biaya dan waktu yang timbul akibat ketidakpastian (McGrath, 1992), dan kesejahteraan yang pada dasarnya adalah sebuah created wealth (Porter,2004). Satu lompatan raksasa ditentukan oleh langkah kecil yang anda ambil hari ini, siapa takut jadi entrepreneur

INDONESIA MASIH JADI NEGARA YANG MENGUNTUNGKAN

Krisis Eropa saat ini dinilai tidak akan berdampak besar bagi perekonomian Indonesia. Indonesia bahkan termasuk salah satu dari tiga negara yang dianggap masih memberikan keuntungan kepada investor.

Negara yang memberikan keuntungan bagus dan bunga tinggi (kepada investor) masih China, India, dan Indonesia. Selain itu, kondisi perekonomian Indonesia kini masih relatif stabil. Hal ini dikarenakan permintaan atau pangsa pasar domestik negeri ini tidak mengalami gejolak.

Pun dengan sistem keuangan negeri ini yang sangat terbuka yang menurutnya membuat perkembangan arus modal kita semakin positif. Bahkan, lanjutnya, Indonesia menempati peringkat kedua setelah Singapura terkait perkembangan arus modal (capital development).

"Indonesia itu termasuk negara yang sangat terbuka, nomor dua setelah Singapura. Capital development di Singapura sebelum krisis lebih besar daripada kita, sekira USD160 miliar. Sementara kita hanya USD60 sampai 70 miliar. Jadi, untuk sektor keuangan, Indonesia memang surganya".(ujar ekonom Indef Aviliani, saat seminar "Antisipasi Dampak Lanjutan Krisis Yunani terhadap Perekonomian Indonesia", di Jakarta, Selasa (22/6/2010).

Bila dikaitkan dengan perekonomian Yunani, dia mengatakan, dibandingkan Indonesia, pertumbuhan perekonomian Yunani relatif sudah negatif sejak 2009. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan bayar utangnya.

Tapi karena masing-masing negara Eropa memiliki masalah tersendiri, ini mengakibatkan bantuan terhadap Yunani belum optimal. Sehingga dampak ini akan terus-menerus karena masing-masing negara punya masalah yang hampir sama.

Dengan kondisi keuangan seperti itu, maka menurutnya tidak akan ada investor yang ingin berinvestasi di sana. Para investor, lanjutnya, pasti akan mencari negara yang memberikan margin yang baik.

"Sekarang dengan defisit APBN yang besar, siapa yang mau percaya dengan negara-negara seperti itu? Kalau kita punya uang, mau tidak membeli obligasi mereka? Pasti tidak mau kan? Nah, akhirnya apa? Para investor mencari negara yang berikan margin yang baik. Sampai sekarang Indonesia masih termasuk negara yang memberikan keuntungan yang bagus," kata Indev Afiliani (ekonom).

Renovasi Rumah Bisa Dapat Subsidi Jamsostek

source : detikfinance
Hotbonar Sinaga (dok detikcom)
Jakarta - Anda peserta Jamsostek dan ingin merenovasi rumah? Mungkin ada baiknya Anda memanfaatkan fasilitas pinjaman untuk renovasi rumah dari BTN, hasil kerjasama dengan Jamsostek itu.

Seperti diketahui, Jamsostek menggandeng PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) untuk mensubsidi peserta program Jamsostek yang akan mengajukan permohonan pinjaman untuk renovasi rumah dari Bank BTN. Nilai pinjaman yang diajukan tidak terbatas dengan jangka waktu pinjaman maksimal 10 tahun.

Demikian hal itu dikemukakan oleh Direktur Utama Jamsostek Hotbonar Sinaga di Kantor Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (21/6/2010).

"Sebenarnya ini perluasan kerjasama untuk uang muka perumahan. Kalau untuk renovasi itu (subsidi) sampai dengan Rp 30 juta kepada peserta dengan strata yang sama dengan pinjaman uang muka rumah," ujarnya.

Jika Anda ingin mendapatkan fasilitas tersebut, maka syarat-syaratnya adalah:

* Kepesertaan Jamsostek minimal 5 tahun
* Tidak sedang atau sudah melunasi Pinjaman Uang Muka Perumahan (PUMP)
* Upah maksimal sebesar Rp 15 juta per bulan.


Pola subsidi tersebut dilakukan dengan berikut,

1. Jamsostek akan menempatkan dana dalam bentuk giro di Bank BTN dengan suku bunga sebesar 1%.
2. Bank BTN akan menyediakan pinjaman renovasi rumah dengan suku bunga sebesar 6%
3. Besarnya subsidi adalah 50% dari nilai pinjaman atau maksimal sebesar Rp 30 juta.


Untuk rencana itu, jamsostek akan mengalihkan sebagian dana investasinya ke dalam deposito di rekening giro . Saat ini, dana deposito perseroan di BTN mencapai Rp 1-1,5 triliun.

"Dengan adanya kerjasama dengan BTN maka kita akan mengalihkan sebagian deposito kita ke dalam bentuk giro di BTN," katanya.

Ia mengatakan, saat ini dana deposito perseroan di BTN mencapai Rp 1-1,5 triliun. Dengan demikian, jumlah portfolio deposito perseroan di BTN akan berkurang. Namun, ia memastikan Jamsostek akan kembali meningkatkan porsi depositonya di bank pelat merah tersebut.

Modal Rp 50 Juta, Bisa Miliki Waralaba Holcim

PT Holcim Indonesia Tbk (Holcim) menawarkan kemitraan waralaba (franchise) bagi para mitra investor yang ingin bergabung mengembangkan bisnis gerai toko bahan bangunan dan konsultasi pembangunan rumah baru maupun renovasi rumah (Solusi Rumah).

Mitra investor dapat membeli franchise Solusi Rumah dengan biaya mulai dari Rp 50 juta (khusus untuk mereka yang sudah punya toko bangunan jadi hanya membeli franchise saja), sampai Rp 700 juta mencakup keseluruhan hingga konsultasi pembangunan rumah. Mitra akan mendapatkan pelatihan, diperkirakan mitra dapat balik modal dalam waktu 3,5 tahun.

Saat ini, sudah terdapat 96 gerai Solusi Rumah di Pulau Jawa. Dengan konsep ini Holcim menargetkan menambah gerai hingga berjumlah 480 gerai pada tahun ini.

"Solusi Rumah tidak hanya menawarkan langkah mudah untuk membangun rumah, tapi juga sistem bangunan yang efektif, efisien, dan ramah lingkungan," kata Group Brand & Marketing Manager Holcim Indonesia Apsara Herman melalui siaran persnya, Selasa (1/6/2010).

Dikatakannya Solusi Rumah lebih dari sekedar toko bahan bangunan, tapi merupakan solusi bagi orang yang akan membangun atau merenovasi rumah. Menurut Apsara, selain lebih cepat, rumah yang dibangun dengan memakai Solusi Rumah juga lebih murah 20%.

"Kami menyadari bahwa banyak orang mengalami kebingungan harus mulai dari mana untuk membangun rumah impian mereka, atau untuk merenovasi rumah mereka saat ini. Sekarang, tidak perlu khawatir lagi, karena Solusi Rumah pasti dapat membantu," tambah Marketing & Innovation Director Holcim Indonesia Patrick Walser.

Konsep yang dikembangkan oleh Holcim melalui Solusi Rumah antara lain:

* Datangi Gerainya.
* Tentukan Desainnya.
* Konsultasikan Biaya dan Kreditnya.
* Pilih Bahannya.
* Bangun Rumahnya.

"Dalam lima tahun ke depan kami menargetkan Solusi Rumah dapat menyerap 50% dari penjualan semen Holcim," kata Franchise Manager Holcim Indonesia Oza Guswara,

Tahun 2009 lalu Holcim Indonesia berhasil menjual sebanyak 7,2 juta ton semen.

Sebelumnya anak usaha Holcim Indonesia yaitu PT Holcim Beton (Holcim Beton) menawarkan usaha waralaba bagi industri beton di Indonesia. Investasi yang dibutuhkan untuk memulai usaha waralaba ini adalah sebesar Rp 3,5 miliar.

Dengan investasi sebesar itu, investor bisa memulai produksi beton sebanyak 24.000 m3 per tahun. Tak hanya itu, Holcim juga menyediakan dukungan tenaga ahli yang akan membantu berjalannya bisnis beton tersebut. Sedangkan untuk biaya bergabung (joint fee), investor akan ditarik Rp 150 juta untuk 5 tahun serta 2% dari penjualan bersih.

Lebih lanjut hubungi: Mitraku@holcim

(sumber :http://www.detikfinance.com/read/2010/06/02/103836/1368085/480/modal-rp-50-juta-bisa-miliki-waralaba-holcim)

Ketika Piala Dunia 'Mencaplok' IHSG

Seperti magnit raksasa yang menyerap seluruh perhatian penduduk planet Bumi, setidaknya bagi penggemar olah raga sepak bola yang mayoritas itu, ajang Piala Dunia nyata-nyata mengalihkan apa pun.

Konon, penyerangan Amerika Serikat ke Irak beberapa tahun lalu mendadak berhenti dan kedua negara sepakat mengadakan gencatan senjata untuk menyaksikan pagelaran akbar ini.

Dan masih banyak lagi kisah bernuansa sama yang membuktikan kekuatan oleh raga ini dalam membuat pengalihan.

Tak luput, dunia pasar modal pun ikutan terpengaruh. Semua investor tahu bahwa setiap Piala Dunia berlangsung, pergerakan pasar saham sontak melambat dan cenderung tidak bergairah. Itu berlaku di seluruh dunia.

Mari sedikit membuka catatan pasar saham beberapa tahun yang lalu. Tepatnya, periode 9 Juni hingga 9 Juli 2006, ketika Piala Dunia yang lalu berlangsung.

Tahun 2006, posisi IHSG masih di level 1.300. Rata-rata volume perdagangan harian selama tahun 2006 tercatat 1,805 miliar saham, sedangkan rata-rata nilai transaksi hariannya sebesar Rp 1,841 triliun.

Pada periode Mei 2006, volume rata-rata harian tercatat 2,925 miliar saham, sedangkan nilai transaksi hariannya Rp 2,919 triliun.

Pada periode Juni 2006, mendadak volume rata-rata harian merosot hingga lebih dari separuhnya menjadi 1,194 miliar saham dengan nilai transaksi rata-rata harian sebesar Rp 1,322 triliun. Penurunan mendadak ini terjadi berbarengan dengan pagelaran Piala Dunia 2006.

Pada periode Juli 2006, penurunan semakin berlanjut seiring dengan ajang Piala Dunia yang mulai memasuki babak final yang akhirnya ditutup pada 9 Juli 2006. Volume rata-rata harian IHSG pada Juli 2006 sebesar 1,029 miliar saham dengan rata-rata transaksi harian sebesar Rp 1,419 triliun.

Pada periode Agustus 2006, ketika Piala Dunia 2006 telah berakhir, perlahan-lahan pasar pun pulih. Volume rata-rata harian IHSG pada Juli 2006 tercatat sebesar 1,715 miliar saham dengan nilai transaksi rata-rata harian Rp 1,777 triliun.

Jika ditinjau lebih spesifik lagi, khusus periode 9 Juni hingga 9 Juli 2006, volume rata-rata harian IHSG tercatat sebesar 1,161 miliar saham, merosot 60,3% dari periode Mei 2006 atau lebih rendah 35,67% dari volume rata-rata setahun 2006 yang sebesar 1,805 miliar saham.

Nilai rata-rata harian selama periode Piala Dunia 2006 (9 Juni-9 Juli 2006) tercatat sebesar Rp 1,306 triliun, anjlok 55,25% dari nilai transaksi rata-rata Mei 2006 dan lebih rendah 29,06% dari nilai rata-rata harian setahun 2006 yang sebesar Rp 1,841 triliun.

Sepanjang Piala Dunia 2006, nilai transaksi IHSG sehari bahkan sempat merosot hanya sebesar Rp 616 miliar. Nilai transaksi satu hari yang paling tinggi selama ajang Piala Dunia 2006 berlangsung hanya sebesar Rp 2,285 triliun.

Posisi IHSG pun cenderung stagnan. Pada penutupan perdagangan 31 Mei 2006, IHSG berada di level 1.329,996 dan pada penutupan perdagangan 31 Juli 2006, IHSG berada di level 1.351,649. Hanya naik tipis selama perdagangan 2 bulan.

Lebih spesifik lagi, pada penutupan perdagangan 9 Juni 2006 (pembukaan Piala Dunia), IHSG berada di level 1.241,326, sedangkan pada penutupan perdagangan 9 Juli 2006 (penutupan Piala Dunia), IHSG berada di posisi 1.339,830. Hanya naik tidak sampai 100 poin selama 1 bulan perdagangan.

Pola ini tidak terjadi pada perdagangan tahun-tahun berikutnya. Pada perdagangan Mei 2007, IHSG volume rata-rata IHSG sebanyak 5,750 miliar saham dengan rata-rata transaksi harian Rp 4,643 triliun.

Pada Juni 2007, volume rata-rata harian masih tercatat 5,330 miliar saham dengan transaksi rata-rata harian Rp 4,356 triliun. Pada Juli 2007, volume harian tercatat 4,900 milliar saham dengan transaksi harian Rp 4,370 triliun. Tidak ada perubahan signifikan.

Pergerakan IHSG sejak penutupan perdagangan 31 Mei hingga 31 Juli 2007 pun bergerak naik drastis dari 2.084,324 ke level 2.348,673.

Untuk tahun 2008, agak sedikit berbeda lantaran adanya krisis pasar modal. Volume dan transaksi harian IHSG terus menerus menurun sejak Mei 2008 hingga akhir tahun. Penurunan ini bersifat kontinyu hingga penghujung 2008, tidak
seperti pada tahun 2006 dimana gairah IHSG kembali bangkit usai ajang Piala Dunia.

Pada tahun 2009, pergerakan IHSG serupa dengan tahun 2007. Tidak terlihat adanya penurunan volume maupun nilai transaksi yang berarti pada periode Mei hingga Agustus 2009.

Posisi IHSG pun meningkat tajam dari penutupan 31 Mei 2009 di level 1.916,831 ke level 2.323,236 pada penutupan 31 Juli 2009.

Data di atas menunjukkan kalau gelaran Piala Dunia nyata-nyata memberikan pengaruh besar pada pergerakan pasar saham, meskipun analis-analis pun tak tahu persis apa penyebab utamanya.

Pertanyaan besarnya, kemana perginya uang dan daya beli sehingga pergerakan saham mendadak lesu dan minim transaksi setiap kali ajang Piala Dunia berlangsung. Sejumlah rumor mengatakan, bandar-bandar pasar saham untuk
sementara mengalihkan uangnya ke pasar judi bola internasional.

Benarkah demikian? Sulit memastikannya. Hanya pengalaman yang bisa dijadikan acuan.

Lantas bagaimana dengan prospek pergerakan pasar saham dan IHSG pada ajang Piala Dunia 2010? Apakah akan bernasib serupa, dimana transaksi cenderung lesu dan stagnan serta minim transaksi?

Mari kembali meninjau data perdagangan. Pada periode Mei 2010, volume harian IHSG tercatat sebesar 6,423 miliar saham dengan transaksi harian Rp 5,119 triliun. IHSG ditutup pada level 2.796,957 pada perdagangan 31 Mei 2010.

Memasuki periode Juni 2010, perdagangan saham mulai menunjukkan tanda-tanda melambat, meskipun level HSG masih cenderung naik. Namun dari sisi volume dan transaksi harian, sudah sangat terasa terjadinya perlambatan dan stagnasi.

Ajang Piala Dunia 2010 dijadwalkan berlangsung sejak 11 Juni hingga 11 Juli 2010. Pada perdagangan 9-11 Juni 2010, penurunan volume transaksi sudah mulai terjadi cukup tajam.

Jika dirata-rata, selama 9 hari perdagangan (1-11 Juni 2010) saja, volume harian telah menurun menjadi 6,028 miliar saham dari posisi akhir Mei 2010 sebanyak 6,423 miliar saham.

Nilai transaksi rata-rata harian selama 9 hari perdagangan tersebut, merosot tajam menjadi Rp 3,428 triliun, anjlok 33,03% dari posisi Mei 2010 sebesar Rp 5,119 triliun.

Posisi IHSG selama sepekan terakhir pun sudah menunjukkan stagnasinya. Pada penutupan 4 Juni 2010 (akhir pekan) IHSG berada di level 2.823,251, sedangkan pada penutupan 11 Juni 2010 (akhir pekan lalu), IHSG berada di level 2.801,899.

Analis PT Samuel Sekuritas Muhammad Alfatih memproyeksikan, IHSG butuh suatu aksi beli maupun aksi jual yang signifikan untuk membuat IHSG keluar dari kecenderungan stagnan dalam pola mendatar (sideways) pada pekan ini.

"Pada dasarnya sentimen negatif kondisi utang negara-negara Eropa sudah mulai memudar alias tidak berpengaruh signifikan terhadap pergerakan IHSG. Oleh sebab itu, seharusnya ini bisa menjadi momentum yang bagus untuk mengangkat IHSG," ujarnya ketika dihubungi detikFinance akhir pekan lalu.

Sayangnya, gelaran Piala Dunia 2010 sedang berlangsung pada saat yang bersamaan, diakui Alfatih bisa membuat IHSG cenderung bergerak lesu dan minim transaksi. Ia mengatakan, pada pekan lalu, IHSG bergerak antara level support 2.700 dan level resistance 2.820.

"Kalau batas support dan resistance 2.700-2.820 tidak mampu ditembus IHSG, kelihatannya pekan depan masih akan sideways dan belum berfluktuasi," ujarnya.

Kalau begitu, langkah apa yang harus dilakukan investor dalam mengantisipasi kecenderungan lesunya IHSG dan minimnya transaksi ini?

Menurut Alfatih, meskipun pergerakan IHSG cenderung sideways, investor masih bisa memanfaatkan celah-celah fluktuasi minimalis dalam amplitudo tipis yang terbentuk pada perdagangan sideways.

"Transaksinya memang tipis, tapi fluktuasi masih ada, walaupun rentangnya tidak besar," jelasnya.

Sederhananya, investor dapat melakukan langkah hit and run alias beli dan jual cepat dengan memanfaatkan celah kenaikan tipis yang diperkirakan bakal terus terjadi pada ajang Piala Dunia 2010 selama 1 bulan mendatang.

Return dan Resiko Reksa Dana

SEBELUM berinvestasi pada reksa dana, investor wajib mengetahui target tingkat pengembalian (return) yang wajar dan besarnya risiko yang siap ditanggung.

Ini sangat penting, mengingat kondisi pasar modal yang penuh ketidakpastian membuat reksa dana saat ini mengalami kerugian, terutama reksa dana saham yang isi portofolionya sebagian besar pada sektor komoditas. Karena itu, calon investor memerlukan suatu panduan (guidance) untuk menentukan berapa besar target return wajar dan risiko jika berinvestasi di reksa dana.

Perlu diingat, hukum alam tetap berlaku, yaitu semakin besar keuntungan, semakin besar juga risikonya (high risk high gain). Sebelum berinvestasi, sebaiknya perlu diketahui bahwa reksa dana terdiri atas beberapa jenis, yakni reksa dana pendapatan tetap (RDPT), reksa dana campuran (RDC), dan reksa dana Saham (RDS).RDS yang investasinya mayoritas di saham tentu memiliki risiko paling besar bila dibandingkan RDC dan risiko RDC lebih besar daripada RDPT.

Namun, apakah kenyataannya seperti itu? Bila iya, berapa besar returndan risikonya? Untuk menjawab pertanyaan di atas, penulis mencoba memetakan berapa besar target return yang wajar dan seberapa besar risikonya bila investasikan pada RDPT, RDC, dan RDS dengan pengamatan data yang dilakukan selama periode 28 Oktober 2005-28 Oktober 2008.

Pemetaan keuntungan dan risiko ini dilakukan dengan cara menghitung rata-rata returnindeks tahunan dari masing-masing jenis reksa dana menggunakan rumus Geometrik Return serta perhitungan risiko menggunakan Standar Deviasi. Sebaiknya perlu dipahami terlebih dahulu apa itu standar deviasi. Standar deviasi adalah ukuran penyebaran atas sekumpulan data pengamatan.

Persamaan standar deviasi didapat dengan menghitung selisih setiap angka pengamatan terhadap nilai rata-ratanya,kemudian kuadratkan, lalu bagikan dengan jumlah pengamatan, dan hasilnya diakarkuadratkan. Jadi, jika terdapat banyak data yang dekat dengan nilai rata-rata, disebut sebagai standar deviasi kecil.

Sebaliknya, jika terdapat banyak data yang jauh dari nilai rata-rata, disebut standar deviasi besar. Lalu, jika semua nilai data sama dengan rata-ratanya, disebut standar deviasi nol. Penyebaran data pengamatan umumnya berbentuk seperti kurva lonceng dengan istilah Distribusi Normal Baku.

Jika data terdistribusi secara normal, 68% dari pengamatan berada di kisaran antara -1 sampai 1 standar deviasi, 95% dari pengamatan berada di kisaran antara -2 hingga 2, dan 99,7% terletak antara - 3 hingga 3 standar deviasi.

Berdasarkan pengamatan data reksa dana dan indeks harga saham gabungan (IHSG) serta LQ45 sebagai benchmark, dapat dibuat grafik dengan sumbu X sebagai risiko dan sumbu Y merupakan return.

Dari grafik tersebut, dapat dijelaskan bahwa lingkaran yang terletak paling kiri, yaitu RDPT, memiliki risiko harian sebesar 0,25% dan return tahunan 5,58% atau sekitar 0,015% per hari. Artinya, 68% probabilitas return RDPT berada di kisaran -0,23% (=0,015%- 0,25%) hingga 0,27% (=0,015%+ 0,25%).

Sementara pada lingkaran kedua dari kiri, yaitu RDC, terlihat risiko harian sebesar 1,03% dan return tahunan 1,65% atau sekitar 0,005% per hari. Artinya, 68% probabilitas return RDC berada di kisaran -1.03% (=0,005%-1,03%) hingga 1,04% (=0,005%+1,03%). Kemudian, untuk gambar lingkaran IHSG dan LQ45, masing-masing memiliki risiko sebesar 1,73% dan 1,99% dengan returntahunan 1,65% dan -2.97%.

Nah, dari grafik tersebut, terlihat bahwa RDC memiliki potensi return yang lebih baik dengan risiko lebih kecil dibandingkan RDS. Namun, return tahunan RDPT lebih tinggi dari pada RDC, yaitu sebesar 3,93% dengan tingkat risiko lebih kecil. Dibandingkan RDS, return tahunan RDPT juga lebih tinggi sebesar 5,66% dengan tingkat risiko jauh lebih kecil. Mengapa demikian?

Return tahunan RDPT lebih tinggi dari RDC dan RDS karena dunia sedang mengalami krisis finansial yang mengakibatkan perlambatan pertumbuhan ekonomi global sehingga pasar saham anjlok sangat dalam. Akibat jatuhnya harga saham, return tahunan RDC dan RDS turun signifikan sehingga lebih kecil dari return tahunan RDPT.Dalam masa resesi,hukum alam tidak berlaku untuk RDS, RDC, ataupun RDPT karena dalam kondisi normal seharusnya return RDS maupun RDC lebih tinggi dari RDPT.

Dari perbandingan antara IHSG dan RDS juga terlihat return tahunan IHSG lebih tinggi sebesar 1,73% dengan tingkat risiko relatif sama. Namun, dibandingkan LQ45, RDS masih memiliki return tahunan lebih tinggi sebesar 2,89% dengan tingkat risiko lebih kecil. Jadi, berdasarkan hasil pemetaan return dan risiko tersebut, dapat disimpulkan bahwa dalam masa krisis finansial global ini, investasi pada reksa dana yang memiliki return tertinggi dengan tingkat risiko yang relatif kecil ada pada RDPT




dikutip dari : "okezone.com"
ditulis oleh : Vonita F. H. (analis indo premier securities)

 
©2009 Darwin's BloG | by TNB